Senin, 08 Desember 2008

Empat F-5 Tiger Lakukan Operasi di Sulawesi Utara

F-5 Tiger TNI-AU

Manado - Sebanyak empat pesawat F-5 Tigerk TNI Angkatan Udara melakukan “Operasi Lindung Pulau” di Sulawesi Utara (Sulut).

“Operasi yang digelar sejak 1 Desember 2008, tersebut untuk pengamanan pulau terluar,” kata Komandan Pangkalan Angkatan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri), Letkol Pnb Bambang Wijanarko kepada wartawan, di Manado, Sabtu.

Menurut Bambang, pesawat F-5 Tiger tersebut didatangkan dari Skuadron Udara Lanud Iswahjudi Madiun, dengan membawa 10 penerbang serta sekitar 60 kru.

“Dalam operasi tersebut juga membawa helikopter Puma SA-330,” katanya.

Bambang juga mengatakan TNI AU memberi kesempatan kepada masyarakat luas di Sulut untuk dapat melihat langsung kondisi keempat pesawat serta helikopter Puma itu.(Sumber)

Pos Indonesia Ditarik

Pos Indonesia Ditarik

Pos Indonesia Ditarik Pos Indonesia Ditarik

Pos Pengamatan VII yang dijaga oleh Pasukan Indonesia Force Protection Company yang berada di area Naqoura Extention Lebanon Selatan ditarik untuk sementara karena pertimbangan keamanan, Sabtu (6/12).(www.detik.com)

Biak: Melihat Program Anti-Rudal Balistik Indonesia

Indonesia Bisa Luncurkan Rudal Balistik

BAGI Indonesia, pembangunan dan pengoperasian bandar antariksa di Biak dapat dimanfaatkan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan sosial. Pengoperasian bandar antariksa adalah kesempatan emas untuk proses pembelajaran dan alih ilmu pengetahuan serta teknologi dari Rusia ke Indonesia. Manfaat dari sisi sosial, dengan pengoperasian bandar antariksa diharapkan dapat memperluas lapangan kerja dan peningkatan pada community development (pembangunan masyarakat).

Sedangkan manfaat ekonomi adalah akan meningkatkan devisa bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dari data menunjukkan bahwa total penerimaan dari peluncuran wahana antariksa berbobot ringan pada periode 1998-2007 diperkirakan akan meningkat menjadi sekira 45,6 sampai 55,6 miliar dolar AS.

Berdasarkan hasil studi Euroconsult dan Teal Corporation, sampai dengan tahun 2015, diproyeksikan setiap tahunnya akan ada sebanyak 120 satelit diluncurkan dengan frekuensi peluncuran sebanyak 60 sampai 80 kali. Dari semua peluncuran wahana antariksa tersebut sebagian besar dilakukan dengan sistem peluncuran statis dari darat (land launch). Dengan adanya bandar antariksa yang dapat meluncurkan dari udara dan menghemat biaya, diharapkan terjadi perubahan teknik peluncuran dari peluncuran statis ke air launch system.

Futron dari Amerika Serikat melaporkan, jumlah peluncuran satelit komersial dari data tahun 1981-2000 dihasilkan rata-rata 98 satelit per tahun. Jika dirata-ratakan, akan terdapat 1-2 kali peluncuran satelit setiap pekannya. Diperkirakan sejak 2001 sampai 2020 akan terjadi peningkatan rata-rata peluncuran satelit komersial, di mana terdapat lebih dari 106 peluncuran satelit komersial setiap tahunnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi, khususnya untuk transfer data, video, maupun voice lintas global sangat membutuhkan satelit sebagai alat yang dapat mempercepat waktu dan melintasi ruang global.

Manfaat ekonomi lain dari adanya bandar antariksa adalah dapat sebagai objek pariwisata kedirgantaraan dan ilmiah, terutama pada saat peluncuran. Kota-kota seperti Kourou di Guyana (Prancis) dan Alcantara (Brasil) mengalami kemajuan ekonomi yang sangat mengagumkan karena adanya perkembangan wisata sebagai pengaruh dari peluncuran wahana antariksa dari kedua kota tersebut secara sea launch.

Dengan melihat perkembangan peluncuran satelit komersial dunia, Biak akan berpotensi besar sebagai bandar antariksa yang berkembang luas di dunia. Tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah lingkungan Biak masih mampu memiliki daya tampung untuk polutan udara yang dilepaskan dari wahana antariksa, sampah antariksa berupa space debris (padatan sisa materi roket dan sebagainya), dan kebisingan (suara yang dihasilkan oleh wahana antariksa) mengingat proyeksi frekuensi peluncuran satelit di masa depan yang begitu besar?

Akhirnya kita berharap agar bandar antariksa ini berkembang sesuai misinya sebagai lokasi untuk meluncurkan satelit, roket, atau wahana antariksa lainnya yang semuanya ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia dan iptek, tidak untuk kepentingan militer atau basis pertahanan dan keamanan suatu negara.

Hal ini mengingat teknologi antariksa berpotensi cukup besar untuk kepentingan hankam, utamanya untuk militer. Teknologi wahana peluncur (roket) memiliki kesamaan dengan teknologi misil dan rudal balistik. Negara yang memiliki roket dan mampu meluncurkan satelit dan muatan lainnya ke orbit LEO atau MEO pasti memiliki kemampuan membuat misil balistik jarak sedang dan yang mempunyai kemampuan meluncurkan ke orbit GSO pasti memiliki kemampuan membuat misil balistik antarbenua.***

Lilik Slamet S., M.Si.

Peneliti Bidang Aplikasi Klimatologi & Lingkungan. Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer & Iklim , Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung.

Minggu, 07 Desember 2008

CN-235MPA (Maritime Patrol Aircraft)




PT. Dirgantara Indonesia pertamakali membuat pesawat patroli maritim CN-235 MPA awalnya atas pesanan Dephan-RI (Departemen Pertahanan Republik Indonesia) yang diperuntukan kepentingan patroli laut dan surveilence bagi TNI-AL dan TNI-AU.

Sampai dengan saat ini TNI AL mempunyai 12-16 unit (1 skadron) pesawat intai maritim, dengan varian NC-212MPA dan CN-235MPA.

Pada bulan Mei 2000, THALES dan IPTN menandatangani Memorandum Of Agreement untuk memasok Airborne Systems AMASCOS (Airborne Maritime Situation Control System) untuk tiga unit CN-235 TNI-AU. AMASCOS termasuk Ocean Master search radar buatan Thales dan EADS Deutschland, RWR Elettronica ALR 733, Chlio thermal imager dari Thales Optronique, Gemini navigation computer dari Thales (dahulu Sextant) Avionics dan AN/ASQ-508 Magnetic Anomaly Detection (MAD) system dari CAE.

Pada bagian bawah setiap sayap pesawat terdapat tiga hardpoint yang dapat mengakomodasi rudal anti-kapal jenis Harpoon. MPA untuk Indonesia dilengkapi dengan perangkat untuk persenjataan lain berupa dua Torpedo Mark 46 atau rudal M-39 Exocet.




MESIN. Dua mesin turboprop CT&-9C3 dari General Electric masing-masing menghasilkan tenaga 1,305kW (dengan tenaga cadangan otomatis menghasilkan 1,394kW). Baling-baling Hamilton Sundstrand 14RF-21 dengan diameter 3,35m. Propeller dari bahan glass fibre dengan metal spar dan urethane foam core.

SPESIFIKASI:
Panjang pesawat: 21,4 meter
Tinggi: 8,18 meter
Bentang sayap: 25,81 meter
Bentang sayap ekor: 11 meter
Luas lantai kabin: 22,8 meter persegi
Volume kabin: 43,2 meter kubik
Lebar kabin: 2,7 meter
Panjang Kabin: 9,65 meter
Tinggi kabin: 1,88 meter
Bobot maksimum tinggal landas: 15.400 kg
Kapasitas bahan bakar: 5.264 liter
Kecepatan jelajah maksimum: 455 km/jam
Endurance: lebih dari 8 jam

TNI AU :Mencari Pengganti Si "Kuda Liar"



Oleh : B Josie Susilo Hardianto

Meskipun ada banyak pilihan, nyatanya tidak mudah mencari pengganti pesawat tempur taktis milik TNI Angkatan Udara, OV-10 Bronco, yang makin uzur usianya.

Lebih dari 30 tahun masa pengabdian pesawat tempur yang bertugas pada jajaran Skuadron 21 itu diisi dengan sejarah mengagumkan. Sebagai pesawat yang mampu mengemban berbagai misi, OV-10 telah membuktikan keandalannya dalam berbagai operasi tempur di Indonesia, seperti Operasi Seroja tahun 1976 hingga operasi militer di Aceh tahun 2003.

Didatangkan pertama kali pada Oktober 1976, pesawat buatan Rockwell International Amerika Serikat ini awalnya menempati Skuadron Udara 3 Wing Operasi 002, sarang para pesawat tempur taktis. Sejak awal dipilih, OV-10 Bronco memang diarahkan sebagai salah satu pendukung kemampuan tempur udara taktis menggantikan tugas pesawat tempur yang sebelumnya telah dimiliki oleh TNI Angkatan Udara, P-51 Mustang (Perjalanan TNI Angkatan Udara dan Pengembangannya Para Awal Dasawarsa 80-an, Mabes TNI AU, Dinas Penerangan, 1982).

Sebagai bagian dari perwujudan pembangunan kekuatan kembali TNI Angkatan Udara dalam Rencana Strategis I, OV-10 Bronco merupakan bentuk nyata dari pembentukan unit tempur kecil yang efektif. Pembentukan itu merupakan salah satu dari lima pokok kebijakan pimpinan TNI Angkatan Udara kala itu.

Renstra I

Dalam uraian pembentukan unit tempur kecil itu disebutkan, sesuai kemampuan negara dan tingkat ancaman yang dihadapi, rencana pembangunan TNI Angkatan Udara dalam dasawarsa 70-an didasarkan pada penentuan prioritas berdasarkan opportunity cost, yaitu mengarahkan pembangunan kekuatannya pada kemampuan angkutan udara dan kemampuan tempur terbatas.

Lebih jauh, untuk menghadapi kemungkinan ancaman yang ada diperlukan kemampuan tempur udara taktis dan strategis secara terbatas, kemampuan intai dan pemotretan udara serta patroli udara.

Tidak salah bila OV-10 menjadi pilihan. Pesawat yang terbang pertama kali pada 16 Juli 1965 itu memang dirancang sebagai pesawat yang berkemampuan mengemban misi beragam mulai dari pesawat tempur, pengintai, patroli, hingga evakuasi.

Digunakan pertama kali oleh Angkatan Udara dan Korps Marinir Amerika, keampuhan itu telah teruji di medan perang Vietnam. Meskipun memiliki kapabilitas dengan dengan misi utama Counter Insurgency (COIN), pesawat itu pun mampu memainkan peran sebagai pesawat yang mampu menggelar perang psikologis dengan cara menyebar pamflet dari udara.

Pesawat yang didorong dua mesin turboprop T76-G-412 itu mampu terbang dengan kecepatan hingga 452 kilometer per jam dalam radius 376 kilometer dan mampu lepas landas dari landasan perintis di dalam hutan. Dalam situs Wikipedia disebutkan, OV-10 yang digunakan oleh delapan negara, termasuk Indonesia itu, merupakan pesawat tempur yang memiliki performa seperti helikopter serbu berat sekaligus pesawat tempur andal.

Ia memiliki kecepatan melebihi helikopter tetapi lebih lambat daripada jet tempur. Kelebihan itu menyebabkan sebagai pesawat tempur ringan bersayap tetap OV-10 mampu bermanuver jauh lebih baik dibandingkan dengan helikopter dan jet pada kecepatan rendah. "Handling-nya bagus," ungkap mantan penerbang uji TNI Angkatan Udara Marsekal Muda (Purn) F Djoko Poerwoko.

Selain itu, OV-10 yang mampu membawa aneka persenjataan seperti roket, bom, dan senapan mesin ringan kaliber 7.62 milimeter (senapan otomatis OV-10 Bronco milik TNI Angkatan Udara diganti dengan senapan mesin berat Browning kaliber 12.7 milimeter) juga memiliki kemampuan membawa enam penerjun, evakuasi medis dan pada masa damai pesawat itu dapat difungsikan untuk survei geologi, pemetaan udara, penyemprotan, serta patroli.

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Muda Gandjar Wiranegara mengemukakan, kelincahan dan kapabilitas OV-10 yang tangguh di berbagai misi itulah yang menyebabkannya dijuluki si kuda liar.

"Kita dapat segera berbalik arah dalam kecepatan rendah ketika melihat gerilyawan muncul dari hutan yang ada di belakang pesawat," kata dia.

Untuk Indonesia, dengan kondisi geografis dan ancaman yang ada kemampuan itu sangat cocok. Oleh karena itu, ketika usia OV-10 makin menua dan harus segera pensiun tidak mudah untuk menemukan penggantinya.

Pilihan pengganti

Di tengah keterbatasan dana yang dimiliki, ada beberapa pesawat yang dilirik sebagai pilihan, yaitu EMB-314 Super Tucano buatan Embraer Brasil, KO-1 dari Korea Aerospace Industries, Su-25 dari Rusia serta L-159 ALCA keluaran Aero Vodochody Czech. Dua pesawat pertama, yaitu Super Tucano dan KO-1, merupakan pesawat tempur ringan berbaling-baling, sedangkan dua lainnya, L-159 dan Su-25, merupakan pesawat tempur ringan bermesin jet.



Meskipun demikian, keempat pesawat itu mengusung berbagai piranti canggih khas pesawat tempur modern. Super Tucano dan KO-1, misalnya, selain dilengkapi dengan head up display (HUD), kinerja pilot juga dibantu dengan sistem kontrol hands on throttle and stick (HOTAS). Selain itu, menurut Gandjar Wiranegara, meskipun menggunakan mesin turboprop, Super Tucano tidak ribut. "Kabinnya senyap hingga kita seolah ada dalam pesawat jet," tuturnya.

Gandjar yang sempat merasakan terbang dengan Super Tucano mengemukakan, seperti OV-10 Bronco, pesawat bermesin PT6A-68A buatan Pratt and Whitney Kanada itu mampu bermanuver lincah pada kecepatan rendah. Sasaran di darat dapat terlihat jelas dari kokpit pesawat hingga seolah tampak berhadapan. Pesawat itu pun mampu mengemban misi terbang malam karena dilengkapi dengan kacamata pengindra malam generasi ketiga serta dimungkinkan dilengkapi dengan forward looking infrared (FLIR) yang tampilannya dapat dilihat pada color multifunction displays (CMFD).

Kemampuan yang tidak kalah jauh juga dimiliki oleh KO-1 buatan Korea. Tentang pesawat itu penerbang dan teknisi Angkatan Udara tentu telah memiliki banyak pengalaman karena pesawat tersebut merupakan pengembangan dari pesawat KT-1 Wong Bee yang saat ini telah digunakan sebagai pesawat latih bagi karbol TNI Angkatan Udara.

Jika Indonesia dalam pemilihan pesawat pengganti masih berorientasi pada fungsi antigerilyawan, maka Super Tucano merupakan pilihan yang tepat. Selain itu, seperti layaknya pesawat tempur taktis dengan bermesin turboprop, Super Tucano mudah terbang dan mendarat pada landasan pacu pendek serta lapangan terbang perintis. Dibandingkan dengan pesawat jet, tentu saja proses penyiapannya pun jauh lebih cepat dan mudah.

Tidak hanya itu, dengan berbagai piranti canggih yang diusungnya serta kemampuan tempur yang dimilikinya, Super Tucano, tutur Gandjar, dapat difungsikan sebagai pesawat transisi bagi penerbang tempur sebelum terbang dengan pesawat bermesin jet.

Namun, jika orientasi pertahanan udara Indonesia nantinya lebih membutuhkan dukungan pesawat penyergap, tentu saja Super Tucano harus disisihkan dan pesawat tempur ringan seperti L-159 atau Su-25 menjadi pilihan. Gandjar mengemukakan, terkait hal itu, pemerintahlah yang memiliki wewenang menentukan.

Penentuan

TNI Angkatan Udara hanya memberi catatan dan masukan dan pilihan akhir tergantung dari pemerintah. Dihubungi terpisah, pengamat penerbangan nasional, Dudi Sudibyo, mengemukakan, pemerintah memang menjadi penentu akhir apa yang hendak dipilih menggantikan OV-10. Namun, pilihan itu sebaiknya sungguh-sungguh memerhatikan kebutuhan dan konsep yang memang telah dirancang.



Ia mengingatkan, agar berbagai faktor x, seperti penggunaan rekanan dalam pengadaan sistem senjata, diminimalkan. Alasannya, dapat saja hanya karena kepentingan keuntungan segelintir orang proses penguatan pertahanan dan pemilihan terhadap senjata yang tepat dapat bergeser bahkan diabaikan. "Dulu hal ini sering terjadi," ungkapnya.

Untuk itu, ia berpendapat, berbagai hal substansial, seperti pesawat apa yang sesungguhnya dibutuhkan, apakah untuk latih, latih mula atau lanjut atau misi khusus, harusnya ditetapkan dengan jelas sesuai dengan design pertahanan dan orientasi jangka panjang TNI Angkatan Udara.

Selain itu, ia juga mengungkapkan, setelah dibeli, dukungan suku cadang dan perawatan haruslah memadai. Gandjar Wiranegara mengemukakan, banyaknya negara pengguna dan keterusberlangsungan sebuah pabrikan juga menjadi salah satu hal yang patut dicermati. Hal itu penting agar pesawat-pesawat yang telah dibeli tetap terjamin keandalan dan kelaikannya.

OV-10 Bronco telah menunjukkan kinerjanya yang andal. Hari-hari ini, si kuda liar yang makin uzur itu menanti pengganti yang tak kalah andal. Meski dililit persoalan minimnya dana, tentu saja pemerintah tidak boleh berlama-lama membuat keputusan karena para penerbang yang dulu mengawaki OV-10 membutuhkan tunggangan baru untuk terus menjaga performa mereka. Selain itu, Indonesia pun membutuhkan penjaga-penjaga udara yang andal setelah ditinggal oleh sang kuda liar, OV-10 Bronco.

Sumber : KOMPAS

90% Kapal Eks-Jerman Siap Beroperasi


Penyapu ranjau kelas Condor, KRI Pulau Rusa/726 eks GDR ship Oranienburg/341.

JAKARTA - Dewan akhirnya menggagas desakan penghapusan utang negara sebesar Rp5,6 triliun untuk pembelian 39 kapal tempur eks-Jerman Timur. Namun, TNI-AL justru merasa diuntungkan dengan adanya kapal-kapal itu.

Wakil Kepala Staf TNI AL Laksdya Moekhlas Sidik menuturkan, saat ini dari 39 unit mesin tempur laut tersebut, sebanyak 90 persen di antaranya sudah berada dalam kondisi siap beroperasi. Kesiapan itu, sambung dia, diraih setelah TNI AL melakukan repowering terhadap kapal-kapal tersebut.

"Sebanyak sekitar 90 persen kapal eks-Jerman sekarang sudah layak laut," tuturnya, kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (3/12).

Lantaran itulah, Wakil KSAL menandaskan, keberadaan kapal dengan harga beli sekitar Rp.4,5 triliun itu tidak menjadi beban bagi TNI-AL. Bahkan terkait krisis ekonomi global saat ini, dia mengakui, keberadaan kapal-kapal itu cukup membantu.

Tidak Membebani TNI AL

"Sama sekali kapal itu tidak membebani kami. Bahkan dalam situasi krisis seperti sekarang, perawatan kapal-kapal itu jauh lebih murah ketimbang membeli baru," katanya.

Diketahui, armada kapal eks Jerman Timur itu terdiri dari 16 unit jenis korvet Parchim, 14 kapal jenis frosch troop landing ship tanks, dan 9 kapal penyapu ranjau jenis Condor.

Wakil KSAL juga menolak memberikan tanggapan terhadap desakan pembatalan utang negara untuk pembelian ke-39 kapal perang eks Jerman Timur. Wakil KSAL menyatakan, wacana serupa itu merupakan domain dari Departemen Pertahanan.

Desakan pembatalan utang atas pembelian kapal eks-Jerman Timur itu muncul atas dasar dugaan bahwa perjanjian pembelian tersebut cacat hukum. Alhasil, utang yang muncul sebagai konsekuensi pembelian pun dinilai tidak sah.

Kemandirian Alutsista TNI AL


Offshore Patrol Vessel/ FPB-60

Keprihatinan akan kondisi alutsista pertahanan laut negara ini, sedikit demi sedikit coba diperbaiki dan dioptimalkan. Salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan kemandirian pembuatan alat-alat pertahanan dari dalam negeri, dan blue-print penyusunan kekuatan Angkatan Laut yang diinginkan guna mewujudkan Green Water Navy.

Berikut kutipan yang ADMIN ambil dari tulisan KSAL, Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, S.H. di harian SEPUTAR-INDONESIA yang memberikan gambaran bagaimana rencana, prospek dan progres dari pengadaan ALUTSISTA TNI AL kedepan :

***KHUSUS pada kekhawatiran adanya embargo dan ketergantungan terhadap produk asing, maka TNI AL telah melaksanakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, khususnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan alutsista dengan melibatkan industri strategis nasional maupun swasta nasional.

Hal tersebut ditempuh bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan industri tersebut, akan tetapi untuk mewujudkan langkah strategis sehingga TNI/TNI Angkatan Laut tidak lagi bergantung pada negara lain yang pada dasarnya berujung pada efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran.

Pengadaan luar negeri hanya diarahkan pada jenis alutsista yang belum bisa diproduksi di dalam negeri dengan tetap menerapkan program alih teknologi (Transfer of Technology/ ToT) yang menyertakan industri strategis nasional dan lembaga litbang di lingkungan pemerintah maupun akademisi yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian nasional di sektor pertahanan.


Transformasi teknologi kapal TNI AL buatan PAL

Untuk jenis alutsista TNI Angkatan Laut yang bisa diproduksi di dalam negeri secara prioritas dilaksanakan dengan melibatkan industri. TNI AL akan melaksanakan kerja sama dengan PT PAL dalam pengadaan kapal hasil transfer of technology dengan pihak luar negeri yang meliputi pengadaan kapal PKR, LPD yang diarahkan menjadi helicopter carrier (kapal induk helikopter) serta offshore patrol vessel (OPV) 60 meter yang merupakan pengembangan FPB 57 yang telah memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut.

TNI Angkatan Laut juga akan bekerja sama dengan PT DI untuk membangun pesawat udara jenis CN 235 maritime patrol aircraft (MPA) dan heli antikapal selam (AKS).Untuk mendukung persenjataan perorangan Marinir,TNI Angkatan Laut bekerja sama dengan PT Pindad untuk memproduksi senjata SS-1 Marinize.

Kerja sama dalam bentuk lain tentu akan terus dilakukan TNI AL, terutama dengan industri strategis nasional dan swasta nasional dengan melibatkan lembaga penelitian dan pengembangan serta akademisi.Kreativitas anak bangsa untuk menyumbangkan ide-ide cemerlangnya untuk kepentingan pertahanan sangat diperlukan, sebagai contoh kapal patroli produksi PT PAL jenis FPB 57 yang telah bergabung dengan TNI AL telah mampu ditingkatkan performance menjadi kapal yang dilengkapi dengan rudal C-802 buatan China dan telah diujicobakan pada latihan gabungan TNI pada 2008 dengan hasil maksimal.

Dalam waktu yang sama juga dilaksanakan uji coba torpedo SUT produksi PT DI dengan hasil maksimal pula. Hal tersebut memberikan penegasan bahwa sebenarnya negara ini mampu untuk memproduksi peralatan militer secara mandiri untuk mendukung pertahanan negara. Demikian langkah-langkah konkret TNI AL yang telah ditempuh dalam rangka membangun kekuatan angkatan laut yang besar, kuat, dan profesional dihadapkan dengan keterbatasan anggaran pertahanan.

Pembangunan angkatan laut yang besar dan kuat bukanlah kemewahan,namun merupakan sebuah kebutuhan.Indonesia adalah Negara maritime yang besar maka harus memiliki angkatan laut yang besar dan kuat pula serta dilengkapi dengan para pengawak organisasi yang profesional untuk menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut, serta melindungi segenap kepentingan nasional di dan atau lewat laut. Dirgahayu Ke-63 TNI Angkatan Laut, Jalesveva Jayamahe–Justru di Laut Kita Jaya.(*)

KRI Diponegoro/365 Berangkat Februari 2009 ke Lebanon




SURABAYA - Korvet SIGMA KRI Diponegoro-365, dipastikan jadi dikirim ke Lebanon untuk membantu pasukan perdamaian PBB yang bertugas di daerah konflik tersebut.

"Ini untuk pertama kalinya kapal perang TNI AL dikirim untuk pasukan perdamaian PBB," kata Kasal Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdijatno kepada wartawan ,seusai upacara HUT ke-63 TNI AL di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Surabaya, Jumat (5/12).

Ia mengemukakan, kapal jenis korvet kelas "Ship Integrated Geometrical Modularity Approach" (Sigma) buatan galangan kapal di Belanda itu diperkirakan bertolak ke Lebanon Februari 2009.

"Personel beserta anggota satgas yang berjumlah sekitar 100 orang sudah melakukan berbagai persiapan untuk tugas tersebut," kata laksamana berbintang empat yang juga penerbang TNI AL itu.

Persenjataan dan Helikopter

Saat ini KRI Diponegoro bertugas di satuan Koarmatim. Rencananya dalam waktu dekat kapal ini akan dilengkapi dengan sebuah helikopter berkemampuan ASW (anti-sub-warfare).

Mengenai persenjataan, Kasal mengemukakan bahwa kapal kini sudah dilengkapi senjata canggih, sehingga tidak ada persoalan jika dilibatkan dalam misi pasukan perdamaian. Kapal tersebut akan bergabung dengan kapal perang UNIFIL dari negara lain.

KRI Diponegoro mampu menampung 80 orang kelasi, serta peralatan tempur standar lainnya, seperti radar, antilacak sinyal, dan cek otomatis kerusakan.(*)

Sumber : ANTARA

Sabtu, 22 November 2008

Pangeran Andrew Tawarkan Helikopter Lynx



Jakarta (ANTARA News) - Pangeran Andrew Albert Christian Eduard yang merupakan putra Ratu Elizabeth dari Inggeris menawarkan helikopter Lynx, untuk mendukung kesiapan alat transportasi TNI.

"Helikopter itu memang bagus. Namun memerlukan platform yang lebih besar dari kapal korvet Belanda dan pernah digunakan beliau saat berdinas di Angkatan Laut," kata Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, seusai menerima Pangeran Andrew di Jakarta, Kamis.

Menanggapi tawaran itu, Juwono mengatakan karena terlalu mahal, maka pihaknya tidak akan memenuhi tawaran itu dan akan lebih memilih helikopter Bell.

Pada pertemuan sekitar 30 menit itu, dibicarakan pula rencana pemerintah Indonesia untuk mengalihkan pembiayaan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dari mekanisme Kredit Ekspor (KE) ke rupiah murni dengan menggunakan dana bank pemerintah.

Selain menawarkan helikopter, tambah Menhan, dalam pertemuan itu kedua perwakilan negara itu sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertukaran perwira menengah yang selama ini telah berjalan.

Kerjasama pertahanan kedua negara masih terbatas pada pertukaran siswa perwira menengah untuk Strata 2 strategi pertahanan dan manajemen pertahanan.

"Ini merupakan bentuk diversifikasi. Kita juga mengirimkan perwira kita ke Amerika Serikat, Jepang dan China selain ke Inggris," ungkap Juwono.

Kunjungan Pangeran Andrew ke Indonesia 3 hingga 6 Maret mendatang sebagai perwakilan perdagangan dan investasi Inggris.

Selama kunjungan ke Indonesia, Pangeran Andrew menyampaikan pujiannya terhadap besarnya negara Indonesia. (*)

Sumber : ANTARA

Skadron-31/ Serbu

Here's Mi-35P "Hind-E", tremendous fearsome Fighting Platform! (for John Rambo of course..:D) Enjoy the pictures bro...








Source