Senin, 22 Juni 2009

TNI AL dan RAN Latihan Bersama



HMAS Manoora (L-52)

SURABAYA - TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Laut Australia (RAN) melakukan latihan bersama di perairan wilayah Indonesia, 16-22 Juni.

Latihan yang diberi sandi "New Horizon Exercise-09" itu dibuka beberapa saat setelah kapal perang Australia HMAS Manoora (L-52) bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (16/6) lalu.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut Toni Syaiful mengatakan latihan bersama antarpasukan AL kedua negara bertetangga itu berlangsung pada 16-22 Juni 2009.

Upacara pembukaan latihan itu dilakukan di Kapal perang Republik Indonesia (KRI) Surabaya-591 yang dipimpin Komandan Gugus Tempur Koarmatim Laksamana Pertama TNI RM Harahap.

Dari pihak AL Australia dipimpin Komandan HMAS Manoora (L-52), Letkol Stepen Dryden, dan didampingi beberapa perwira staf yang sejak pagi sudah berada di Dermaga Jamrud Utara.

Menurut Toni, HMAS Manoora (L-52) merupakan kapal perang jenis Landing Platform Amphibious Ship yang panjangnya 159,2 meter, lebar 21,2 meter, dan berbobot 8.534 ton.

"Kapal ini berada di Surabaya untuk melakukan latihan fase pertama di pangkalan yang meliputi communications, enginneering, cargo handling, medical, damage control, boarding VBSS, dan hello operation procedures," katanya.

Selanjutnya HMAS Manoora akan bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Laut Jawa untuk melakukan latihan fase kedua, yakni manuver di lapangan sebagai penerapan latihan yang telah dilaksanakan di pangkalan sebelumnya.

Pada manuver lapangan ini, menurut Toni, TNI AL dari jajaran Koarmatim mengerahkan kapal dari jenis yang sama dengan kapal perang Australia jenis "Landing Platform Dock", yakni KRI Surabaya-591.

Sementara itu, Komandan Satgas "New Horizon Exercise-09", Kolonel Laut (P) Budi Djatmiko menambahkan latihan bersama itu bertujuan untuk mempererat hubungan dan kerja sama yang saling menguntungkan antara TNI AL dan AL Australia.

Sekaligus melatih prosedur koordinasi dan kemampuan berorganisasi secara harmonis, memupuk persahabatan, dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit.

Sumber : ANTARA

Siasat Memperpanjang Usia Alutsista Tua




Hanya seperempat pesawat TNI yang bisa digunakan. Suku cadang kelas dua pun jadilah.

Helikopter itu terbang membubung, lalu mulai berputar mengelilingi landasan. Suara mesinnya menderu-deru, ditingkahi bunyi baling-baling memotong angin. Mendadak, suara mesin senyap. Dalam hitungan detik, hidung heli menukik turun. Tak lama, sebuah dentuman besar menandai terempasnya helikopter Puma 3306 TNI Angkatan Udara, di Landasan Udara Atang Sendjaja, Bogor, Jumat dua pekan lalu. ”Apinya baru padam setelah 15 menit,” kata Salman, 60 tahun, petani di Bojong yang melihat langsung peristiwa na-has itu.

Kecelakaan itu menambah deretan panjang pesawat, helikopter, dan peralatan tempur Tentara Nasional Indonesia yang rusak saat digunakan dalam latihan militer. Tak sampai seminggu sebelumnya, sebuah helikopter Bolkow BO-105 TNI Angkatan Darat juga jatuh di Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. ”Saat itu cuaca berkabut dan hujan deras,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AD, Brigadir Jenderal TNI Christian Zebua.

Prihatin atas serentetan peristiwa kelam itu, Istana lantas bertindak. Awal Juni lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim audit peralatan militer TNI. Tim yang terdiri atas para inspektur jenderal di Departemen Pertahanan dan angkatan-angkatan TNI ini akan mengevaluasi manajemen perawatan peralatan dan pengelolaan anggaran militer. ”Audit diharapkan selesai akhir Juli,” kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.

Teknisi Berkualitas

LIMA pesawat Hercules C-130 diparkir berjajar di hanggar Skuadron 32, Landasan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Rabu pekan lalu. Pesawat angkut andalan TNI ini baru saja melalui proses perawatan berkala. ”Sebelum dan sesudah terbang pun, pesawat menjalani pemeriksaan reguler,” kata kepala penerangan di landasan udara itu, Mayor Wahyudi.

Landasan Udara Abdulrachman Saleh kini ditempati lima pesawat Hercules dan dua pesawat Cassa C 212. Enam pesawat Cassa lainnya serta sejumlah pesawat OV-10 Bronco sudah tidak laik terbang. Semua pesawat di sana hanya bisa digunakan untuk operasi dan latihan militer, serta penanganan bencana alam.

Pesawat yang masih laik terbang menjalani perawatan berkala di skuadron teknik khusus yang ada di pangkalan itu. Jika ada pesawat yang membutuhkan perbaikan berskala menengah sampai besar, penanganan teknis diserahkan ke unit depo pemeliharaan, yang lokasinya sekitar 1 kilometer dari skuadron. Depo ini ada di bawah Komando Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara.


Sebagian besar teknisi di Koharmatau mendapatkan lisensi pendidikan luar negeri

Depo ini memiliki beberapa unit khusus. Ada yang menangani mesin pesawat Cassa, Hercules, dan Hawk saja. Ada unit yang hanya merawat aspek kelistrikan dan alat penerbangan. Dan ada bagian yang fokus merawat rangka dan bodi pesawat. Semua teknisi diseleksi ketat. ”Mereka punya lisensi, dan dilatih secara berkelanjutan dan berjenjang,” kata Wahyudi. Tak hanya itu, para staf perawatan alat militer ini juga disumpah untuk serius mengerjakan tugasnya.

Kondisi di Landasan Udara TNI-AU Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat tak jauh beda. Landasan ini memiliki skuadron teknik khusus yang menangani perawatan peralatan militer. Skuadron itu dibentuk pada September 1966 dan bertanggung jawab atas perawatan belasan helikopter Super Puma yang bermarkas di Atang Sendjaja.

Sebagian besar staf perawatannya mendapat pendidikan khusus di luar negeri. Ada yang lulusan kursus Royal Australian Air Force di Fairbairn Base, Australia, untuk pemeliharaan helikopter jenis Bell-204B. Ada yang belajar ke Helly Orient Pty., sebuah unit perawatan dan pemeliharaan heli dan pesawat di Singapura.

Pendidikan mutakhir juga didapat para staf dan teknisi dari Aerospatiale, perusahaan pembuat helikopter di Paris, Prancis. Pelatihan ini adalah paket dari pembelian sejumlah pesawat terbang dan helikopter—termasuk helikopter tipe SA-330J/L Puma—yang diproduksi negara itu, pada akhir 1970-an. ”Jadi, dari segi kualitas teknisi, tidak ada masalah,” kata Wahyudi.

Suku Cadang Asli Tapi Palsu

Meski sekilas ”aman-terkendali”, sumber Tempo di TNI punya cerita lain. Dia menegaskan bahwa pengadaan suku cadang pesawat di Landasan Udara Abdulrachman Saleh kerap bermasalah. Pemicunya adalah kenaikan harga suku cadang asli pesawat. ”Akhirnya, kita pesan suku cadang asli-palsu buatan Cina,” katanya. Hampir semua komponen pesawat, kata dia, punya versi tiruan yang harganya lebih murah.

Di Bogor, masalah serupa muncul pada awal 2000-an, ketika pabrik Aerospatiale berhenti memproduksi suku cadang dan mesin Puma SA-330. Otomatis, kerusakan sedikit saja bisa membuat heli TNI-AU di sana parkir selamanya. Para teknisi Atang Sendjaja pun terpaksa pijat kening mencari solusi yang realistis.

Pada 2003, proses ”kawin silang” antar-helikopter di Atang Sendjaja pun dimulai. Tiga mesin heli yang sudah tua dan tidak diproduksi lagi diganti dengan mesin baru dari helikopter Super Puma AS-332. Tak hanya ganti mesin, ”kawin silang” ini memodifikasi sistem penerbangan, alat bantu navigasi, sampai memperbarui persenjataan. Saat Tempo berniat melihat langsung fasilitas perawatan pesawat dan helikopter di sana, kepala penerangan lapangan udara itu, Mayor Sus M.I. Adam, melarang. ”Harus ada izin dari Markas Besar TNI,” katanya.


Cockpit C-130 Hercules. Dari 23 unit hanya 10 pesawat hercules yang laik terbang.

Komandan Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara Marsekal Muda Sumaryo H.W. mengakui dibutuhkan sedikitnya Rp 1,6 triliun untuk perbaikan semua pesawat Hercules TNI. Jumlah itu bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan ketersediaan dana perawatan Hercules saat ini yang hanya Rp 100 miliar. Akibatnya, dari total jumlah Hercules TNI saat ini sebanyak 23 unit, hanya 10 pesawat yang laik terbang. ”Sisa yang 10 ini pun tidak 100 persen laik,” katanya, akhir Mei lalu. Idealnya, menurut Sumaryo, biaya perawatan satu pesawat Hercules dianggarkan Rp 80 miliar.

Namun, bantahan datang dari Markas Besar. ”Masalah kecelakaan ini tidak ada kaitannya dengan anggaran,” sergah juru bicara Markas Besar TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen. Anggaran besar, kata dia, bukan jaminan tak ada kecelakaan. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso juga menolak tuduhan ada penyimpangan dalam pengadaan dan penggantian suku cadang peralatan TNI. ”Saat melakukan pemeliharaan, sebelum penggantian atau pengadaan suku cadang, selalu ada tim komisi untuk mengecek kesesuaian suku cadang,” kata Djoko, pekan lalu.

Anggaran TNI saat ini hanya Rp 33 triliun, dari pengajuan semula sebesar Rp 127 triliun. Sebanyak 70 persen dari dana itu digunakan untuk membayar gaji prajurit dan staf, dan baru sisanya untuk pembelian dan perawatan peralatan militer. Pengadaan peralatan baru jelas butuh biaya besar, sehingga dana untuk perawatan pun makin kecil. ”Beli satu pesawat Sukhoi saja sudah berapa duit itu?” kata Sagom Tamboen. Dengan anggaran yang tersedia sekarang, Sagom memperkirakan hanya seperempat pesawat dan helikopter TNI yang laik terbang.

Untuk menyiasati kondisi itu, pesawat yang ada diterbangkan bergiliran. ”Kami buat prioritas,” kata Sagom. Ini penting agar pesawat yang terlalu lama diparkir di hanggar tak berubah jadi besi tua. ”Jika tidak diterbangkan, bisa rusak semua,” katanya.

Sumber : MAJALAH TEMPO

KRI Slamet Riyadi Dikirim ke Ambalat



BALIKPAPAN - TNI AL menambah kekuatan untuk menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di Blok Ambalat. Senin (22/6), TNI AL bakal mengirimkan KRI Slamet Riyadi-352 yang kini bersandar di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, guna menggantikan KRI Makassar-590.

KRI Slamet Riyadi merupakan kapal perang kelas Perusak Kawal Rudal Kelas Ahmad Yani milik TNI AL, kapal ini merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Van Galen F802). Kapal ini telah ditingkatkan kemampuannya pada 1977-1980, termasuk diantaranya pemasangan sistem pertahanan udara, Mistral dan anti permukaan, Harpoon. Selain itu juga dilengkapi dengan torpedo Mk-46.

Kapal itu akan bergabung dengan sejumlah KRI serta kapal kepolisian air dan udara yang sedang berpatroli di Ambalat.

Pengiriman kapal untuk menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia jelang perundingan sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia Juli nanti. Kapal dipimpin Komandan KRI Slamet Riyadi, Letnan Kolonel Laut Taat Siswo Sunarto.

Sumber : METROTVNEWS

Senin, 15 Juni 2009

Propeller Bersirip, Tambah Kecepatan & Hemat Perawatan

SURABAYA - Dermaga Ujung, Perak, Rabu (10/6) pagi pekan lalu sedikit berbeda dengan biasanya. Puluhan anggota TNI-AL memadati salah satu sisi dermaga. Mata mereka tertuju ke satu titik di laut, sebuah kapal jenis landing craft vehicle and personnel (LCVP) yang tengah melaju cepat.

Kedatangan mereka memang untuk menyaksikan uji coba produk teknologi buatan anak negeri di bidang kapal perang. Yakni, penggunaan propeller bersirip yang dipasang di kapal pendaratan personel tersebut.

Ikut dalam uji coba itu beberapa pejabat TNI-AL. Di antaranya, Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan (Kobangdikal) TNI-AL Laksamana Muda TNI Sumartono dan Wakil Kepala Kobangdikal Brigjen TNI (Marinir) Arif Suherman.

Propeller atau baling-baling penggerak kapal itu ciptaan Kapten Bagus Arianto, anggota TNI-AL. ''Benar, hari ini saya diberi kesempatan mengadakan uji coba hasil tugas akhir kuliah saya yang menang kemarin (Mei lalu, Red),'' kata Kapten Bagus.

Dia menjelaskan, propeller adalah penggerak kapal yang biasa dipasang di bagian belakang bawah lambung kapal. Terbuat dari kuningan, tembaga, dan nikel. Fungsi utamanya sebagai alat penerus gaya dorong mesin kapal, yang menggunakan prinsip kerja dayung. ''Dayung itu bermacam-macam jenis dan ukurannya, disesuaikan dengan jenis dan ukuran kapal,'' katanya.

Menurut Bagus yang juga lulusan Politeknik Mesin ITS 1997 itu, propeller ciptaannya itu sebenarnya bukanlah barang yang benar-benar baru di dunia perkapalan. Yang membuat propeller tersebut berbeda dengan propeller biasa adalah penambahan teknologi sirip, mirip sirip ikan, di setiap baling-baling. ''Tambahkan bahan berbentuk mirip sirip ikan itu dapat menambah tenaga dayung kapal,'' katanya sambil menunjukkan contoh propeller ciptaannya.

Dengan propeller berisip tersebut, dipastikan kecepatan kapal bisa dioptimalkan. Dia mencontohkan kapal LCVP yang diuji coba itu. Dalam kondisi baru, kapal tersebut dapat melaju dengan kecepatan maksimal 12-13 knot. Namun, umumnya kapal sekoci perang itu buatan 1981, yang hanya mampu melaju dengan kecepatan 7-8 knot. ''Dengan mengganti baling-baling kapal tersebut (dengan propeller bersirip, Red), kapal pendarat pasukan itu dapat melaju dengan kecepatan 11 knot. Hampir menyamai kecepatan mesin baru,'' tuturnya.

Keberhasilan perwira 34 tahun itu mampu menghemat biaya perawatan kapal. ''Biaya perawatan kapal yang biasanya untuk mengganti mesin (dua mesin satu kapal, Red) seharga Rp 1,2 miliar dapat dihemat dengan cukup mengganti baling-baling seharga Rp 15 juta,'' katanya, lantas tersenyum.

Bagus menceritakan, ide membuat propeller bersirip itu berawal dari kegelisahannya melihat biaya operasional dan perawatan kapal perang milik TNI-AL yang minim.

Sebagai salah seorang atu anggota TNI-AL, perwira karir itu juga prihatin dengan kondisi kapal-kapal AL yang mayoritas sudah tidak lagi dalam kondisi seratus persen. ''Saya prihatin dengan keadaan mesin kapal yang sering saya tangani. Belum lagi jika harus mengganti mesin, pasti biayanya sangat besar,'' katanya.

Karena itu, pria yang bertugas sebagai kepala bagian mesin kapal itu ingin membuat produk yang mampu memacu kecepatan kapal, tanpa mengeluarkan biaya besar yang akan membebani anggaran negara.

Pria tegap itu mencoba mencari teknologi tersebut di internet. Memang, banyak teknologi yang bisa digunakan. Namun, umumnya memerlukan bahan baku dari luar negeri. ''Kalau begitu, kan sama saja kita bergantung kepada negara lain,'' ujar pria kelahiran Surabaya pada 1975 itu.

Akhirnya, dia menemukan teknologi terapan sederhana yang pernah dibuat dosen pembimbingnya di Poltek ITS. ''Ternyata teori teknologi propeller bersirip ini dulu pernah dicoba dosen saya. Jadi, mudah saya berkonsultasi dan mengembangkannya,'' katanya, lantas terenyum.

Karya tersebut digarap sebagai tugas akhir di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL). Untuk menyelesaikan tugas itu, Bagus membutuhkan waktu sebulan. Mulai bikin maket hingga menjadi produk siap pakai. Dia menghabisklan dana Rp 15 juta. ''Itu belum termasuk biaya uji coba. Meski habis banyak, saya puas karena produk ini berhasil selesai dan berguna,'' ujarnya.

Bagian paling sulit selama penelitiannya membuat baling-baling itu ialah mencari kapal sebagai alat uji coba. ''Banyak orang yang menyangsikan temuan ini berhasil. Sebab, jika terjadi apa-apa pada kapal yang akan diuji coba, taruhannya jabatan saya,'' katanya, lantas tertawa.

Bagus tidak menyerah. Dia berhasil meyakinkan atasannya untuk melakukan uji coba pada kapal LCVP yang ukurannya tidak terlalu besar. Sebelum itu, dia telah melakukan uji coba pada kapal contoh kecil buatannya, juga pada software komputer. ''Mungkin gara-gara itu saya diizinkan,'' ucapnya.

Propeller bersirip tersebut juga disertakan dalam Lomba Karya Cipta Teknologi (LKCT) Hari Pendidikan Angkatan Laut (Hardikal) pada 12 Mei lalu. Hasilnya, Bagus tampil sebagai juara. Dia menyisihkan 94 peserta lomba yang terdiri atas 34 anggota TNI-Polri dan 60 peserta dari sipil yang kebanyakan mahasiswa.

Kini Kapten Bagus diberi tugas khusus untuk memproduksi secara masal hasil karyanya tersebut. Dimulai membuat enam propeller bersirip untuk kapal patroli cepat (PC) buatan PT PAL Indonesia. ''Alhamdulillah, saya dapat mandat baru untuk mengembangkan hasil karya ini, semoga berguna untuk negara,'' katanya.

Sumber : JAWAPOS

Selasa, 26 Mei 2009

TNI AD Resmi Gunakan Panser Dalam Negeri



BANDUNG - PT Pindad memproduksi empat jenis panser yang akan digunakan TNI AD. Keempat panser buatan Pindad tersebut adalah jenis Panser Komando, Panser Recovery, Panser Logistik, dan Panser Ambulance.

Sejumlah panser produksi PT Pindad diserahkan Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Rasyid Qurnuen A kepada Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav) dan Kompi Kavaleri Serbu (Kikavser) di Bandung, Selasa (5/5) kemarin.

"TNI berkomitmen untuk bisa menggunakan sarana pendukung operasional buatan Indonesia", kata Pangdam.

Dengan penambahan Panser APS-2, Kodam III/Siliwangi memiliki empat unit panser buatan dalam negeri.

Pangdam III/Siliwangi juga memerintahkan kepada para Dansat (komandan satuan) dan Perwira Satuan penerima Ranpur APS-2 ini agar Ranpur tersebut dapat dipelihara secara optimal dan melakukan koordinasi perawatan dengan bagian Paldam (Peralatan Kodam) dan PT. Pindad selaku area servis.

Keseluruhan panser yang diproduksi PT Pindad berjumlah 154 unit yang direncanakan akan selesai diproduksi pada bulan April 2010, sedangkan Panser yang sudah diserahkan kepada pihak TNI AD berjumlah 20 unit.

Dari 20 unit panser tersebut sudah didistribusikan kepada masing-masing Kodam mendapatkan empat unit panser seri APS-2 atau Angkutan Personel Sedang.

Panser buatan PT Pindad adalah panser produksi Indonesia pertama yang langsung digunakan TNI AD.

Sumber : ANTARA

Indonesia Pertimbangkan Empat Hercules Baru



JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan penawaran empat pesawat C-130 Hercules tipe J dari produsen pesawat angkut asal AS, Lockheed Martin.

"Kami masih menunggu pula hasil penelitian dari tim investigasi Mabes TNI AU tentang kecelakaan yang terjadi di Wamena dan Magetan baru-baru ini," katanya, di Jakarta, Rabu malam (20/5).

Ia menambahkan, pihaknya juga masih akan melihat kemungkinan pembelian empat pesawat bekas C-130 Hercules tipe H buatan tahun 1980, dari sejumlah negara di Asia, termasuk yang berkaitan dengan harga mengingat anggaran yang sangat terbatas.

Juwono mengatakan, jika secara teknis sudah tidak layak ada kemungkinan pesawat-pesawat Hercules TNI yang telah lama digunakan akan dikandangkan (grounded). "Jika, dari hasil penelitian ada sebab teknis yang mengakibatkan kecelakaan tersebut, maka tidak menutup kemungkinan kita grounded, dan ganti dengan yang baru," ujarnya.

Saat ini Indonesia memiliki sekitar satu skadron C-130 Hercules berbagai tipe, yakni C-130 Hercules VIP, C-130 H/HS, C-130 B/H dan C-130 BT dengan tingkat rata-rata kesiapan 60 persen atau sekitar sembilan unit.

Sebagian besar dari Hercules milik TNI AU itu telah mengalami peremajaan (retrovit) baik di Singapura maupun di dalam negeri.

Sumber : ANTARA

CN-235 Siap Menggantikan Fokker-27 TNI AU



BANDUNG - Pesawat CN-235 siap menggantikan 'tugas' Foker-27 milik TNI-AU yang saat ini usianya sudah tergolong tua.

"Pesawat CN-235 akan menggantikan pesawat-pesawat Foker-27, yang saat ini dioperasikan oleh TNI-AU," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, di sela-sela kunjungan Wapres Jusuf Kalla di PT Pindad Bandung, Jumat (22/5).

Menurut Budi, CN-235 merupakan pesawat yang cocok untuk angkutan penumpang jarak pendek dan angkutan cargo yang selama ini diemban Fokker-27 TNI AU.

Keputusan untuk menggunakan pesawat CN-235 dalam peremajaan pesawat Foker itu, menyusul pabrikan Foker saat ini sudah tutup sehingga kesulitan dalam perawatan dan pemeliharaanya.

"Setahu saya saat ini sudah tak ada lagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan Foker-27. Pesawat itu hanya dioperasikan TNI-AU," katanya.

Rencana order pesawat CN-235 itu, kata Budi, akan direalisasikan pada tahun anggaran antara 2010 hingga 2014. Namun demikian, ia belum mengetahui berapa pesawat yang akan dipesan untuk menggantikan foker itu.

"Memang peran Hercules C-130 belum bisa tergantikan, tapi untuk jenis di bawahnya pesawat cargo kecil lebih efektif. Saat ini hanya dua industri pesawat cargo propeler di dunia yakni G-222 di Italia dan CN-235 buatan PTDI," kata Budi.

Terkait spesifikasi CN-235, kata Budi, memang hampir sama namun diakuinya dari kecepatan masih di bawah Foker karena jenis mesin penggeraknya yang berbeda.

"Bila order sudah ada, kami siap mengerjakannya. Namun sejauh ini belum jelas berapa pesawat yang kemungkinan dipesan ke PTDI," katanya.

Saat ini, PTDI tengah menyelesaikan order empat pesawat CN-235 versi MPA dan VIP pesanan Korea Selatan. Korea Selatan selama ini menjadi pengguna CN-235 buatan PTDI.


CN-235 milik Korea Air Force (ROKAF)

Sementara itu, musibah jatuhnya pesawat Foker-27 milik TNI-AU pada April 2009 di atas hanggar pemeliharaan PTDI mengakibatkan kerugian sekitar US$15 juta.

Kerugian itu akibat ikut rusaknya dua pesawat yang sedang dalam perawatan yakni pesawat Batavia Air dan N-212 milik Deraya. Kedua pesawat itu tertimpa pesawat yang jatuh itu.

Budi menyebutkan, kedua pesawat itu sebenarnya sudah hampir rampung dan akan diserahkan kepada maskapai penerbangan pemiliknya. Namun dengan peristiwa itu, hingga kini pesawat itu masih dalam perbaikan. Peristiwa nahas itu sendiri mengakibatkan 18 prajurit TNI-AU tewas.

"Pascakejadian itu, kami memindahkan kegiatan maintanance pesawat ke hanggar sebelahnya, Perbaikan hanggar yang rusak masih dihitung oleh pihak asuransi," kata Budi Meski demikian, proses perawatan dan maintenance pesawat saat ini tak terganggu.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Selasa, 05 Mei 2009

TNI AD Akan Dapat Tambahan 6 Helikopter Mi-35



Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) segera diperkuat enam helikopter tempur Mi-35 buatan Rusia, kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo.

"Tim uji kita kemarin baru pulang dari Rusia, untuk mengecek kesiapan terakhir dari heli-heli tersebut," ungkapnya di sela-sela Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim) yang berlangsung pada Senin hingga Jumat.

Ia mengatakan, keenam helikopter itu akan didatangkan dari Rusia secara bertahap sekitar Juni dan Oktober 2008.

Enam helikopter tempur tersebut merupakan kelanjutan pembelian dua helikopter sejenis yang telah tiba di Indonesia pada September 2003.

Negara pemakai keluarga Mi-24 maupun Mi-35 terbilang cukup banyak, yakni Afghanistan, Aljazair, Angola, Armenia, Azerbaijan, Belorusia, Bulgaria, Ceko, Afrika Selatan, Ethiopia, Finlandia, Georgia, Hongaria, India, Irak, Jerman, Kroasia, Kamboja, Kuba, Khazakhstan, Korea Utara, Kirgizia, Laos, Libya, Mongolia, Mozambik, Peru, Polandia, Rusia, Rwanda, Sierra Leone, Slovakia, Srilanka, Sudan, Suriah, Tajikistan, Uzbekistan, Ukraina, Vietnam, Yaman, dan Yugoslavia, serta Zimbabwe.

Versi Mi-35 P yang dibeli Indonesia diperkirakan memiliki persenjataan antara lain rudal AT-9 Ataka, kanon-kanon berlaras ganda baik yang berkaliber 23 maupun 30 milimeter, hingga beragam roket dengan kaliber yang juga bervariasi. Pada bagian pintu kabin penumpang dapat dipasang sepucuk senapan mesin ringan kaliber 7,62 milimeter. (*)

Sumber : ANTARA

Aerobatik Sukhoi di Lanud Halim



JAKARTA - Pesawat terbaru milik TNI Angkatan Udara SU-30 MK2 Sukhoi yang dipiloti Letkol Pnb. Widyargo “Redbee” Ikoputra dan Mayor Pnb. M. Tonny “Racoon” Haryono menggunakan pesawat TS 3003 dan TS 3001 sebagai pesawat cadangan, akan membelah langit udara Jakarta sekitar Lanud Halim Perdanakusuma dengan manuver-manuvernya yang khas dari pesawat tempur Sukhoi buatan pabrik Knaapo-Irkut, Russia.

Sedikitnya delapan manuver akan dilakukan pesawat yang dijuluki Flanker tersebut, diantaranya Half Cuban, Hi “G” Turn, Inverted, 4 Point Roll, Knife Edge, Slow Speed, Oblique Loop dan Hi Speed Pass, dengan ketinggian rata-rata 300 feet serta kecepatan 350 knot.

Half Cuban yaitu pesawat menanjak dengan sudut 60 derajat dan berputar satu setengah kali yang dilanjutkan membuat setengah lingkaran menuju ketinggian semula, manuver tersebut dilanjutkan dengan Hi G Turn, dimana pesawat akan membentuk lingkaran pada bidang horizontal dengan radius turn yang minimum. Membentuk radius turning yang sangat minimum ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki pesawat sukhoi dan berperan penting dalam pertempuran jarak dekat.

Inverted adalah manuver pesawat yang melaju dengan kecepatan tinggi dalam posisi terbalik tanpa mengubah kecepatan dan ketinggian, gerakan ini mempunyai kesulitan tersendiri karena semua referensi yang biasa digunakan dalam penerbangan akan tampak terbalik. Sedangkan 4 Point Roll adalah pesawat berputar pada satu poros dengan empat titik putaran dengan masing-masing sudut 90 derajat, Knife Edge yaitu pesawat terbang dengan posisi miring pada ketinggian dan kecepatan yang tetap dengan mengandalkan vertical stabilizer untuk menghasilkan gaya angkat.

Pesawat yang memilki daya dorong 55.000 lbs ini mampu melesat pada dua kali kecepatan suara atau setara dengan 2386 km/jam, dirancang tetap stabil pada kecepatan rendah 160 kts dan membentuk sudut serang (angle of attack) kurang lebih 20 derajat. Pada kecepatan tersebut pesawat akan diuji untuk melaksanakan maneuver Oblique Loop yang membutuhkan kecepatan tinggi dan membuat lingkaran vertical dengan sudut 45 derajat, sehingga lingkaran yang berbentuk merupakan bidang sudut kemiringan 45 derajat.

Pada penampilan akhir pesawat yang bermarkas di Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, akan melintas dengan kecepatan tinggi yang dilanjutkan gerakan menanjak 60 derajat sambil melakukan aileron roll (berputar-putar) dengan menggunakan tambahan tenaga (afterburner).

Solo Aerobatic tersebut dilakukan dalam rangka memperingati ke-63 Hari Angkatan Udara yang diperingati tanggal 9 April setiap tahunnya, namun peringatan tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 15 April 2009, mengingat pada tanggal 9 April bertepatan dengan pesta demokrasi bangsa Indonesia yaitu pemilu legislatif.

Sumber : DISPENAU

Selasa, 24 Maret 2009

Pindad Serahkan 20 Unit Panser APS

Pindad serahkan 20 Unit Panser APS

BANDUNG - Sejumlah anggota pasukan TNI AD berbaris di samping Panser APC 6×6 saat acara serah terima Panser dari kepada Departemen Pertahanan di Pindad, Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/2). Sejumlah 20 Panser tahap pertama dari 154 pesanan Panser Departemen Pertahanan senilai Rp1,129 triliun rencananya akan digunakan di sejumlah Batalyon Kavaleri serta Pasukan Perdamaian PBB (Pasukan Garuda). FOTO ANTARA/Rezza Estily/ama/09.

Bandung - PT Pindad menyerahkan 20 panser Angkut Personel Sedang/APS -2 6X6 kepada Departemen Pertahanan (Dephan) yang kemudian diserahkan kepada TNI Angkatan Darat (AD).

Penyerahan ditandai dengan penyerahan berita acara dari Dirut PT Pindad, Adik Avianto Sudarsono kepada Dirjen Sarana Pertahanan Dephan, Marsekal Muda TNI Eris Herriyanto yang selanjutnya diserahkan kepada penggunanya TNI AD.

Adik Avianto Sudarsono mengatakan, ke-20 panser APS itu merupakan bagian dari 150 unit APS yang dipesan pemerintah melalui kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2007.

Sementara itu, Menhan Juwono Sudarsono dalam sambutan tertulis yang dibacakan Marsda Eris Herryanto berharap agar penyelesaian tahap dua tidak terlalu lama hingga bisa dukung tugas-tugas TNI AD.

“Untuk mendukung kebijakan pemerintah yang memprioritaskan produk dalam negeri, maka kami meminta agar PT Pindad meningkatkan kualitasnya dan tumbuh sebagai industri kebanggaan bangsa serta mampu bersaing dengan produk luar negeri,” katanya.

Untuk memproduksi 150 unit panser APS, PT PINDAD mendapat dana talangan dari Bank Mandiri, BNI 46 dan BRI. Satu unit panser memiliki harga Rp5,5 miliar atau lebih rendah dari produksi Perancis seharga Rp10 miliar.

Panser APS-2 6X6 memiliki dimensi 6000×2500×2500, berat 11/14 ton, kecepatan 90 km/jam, dengan radius putar 10 meter, dan daya tanjak 31 derajat. Panser ini juga telah dilengkapi dengan persenjataan senapan 7,62 mm, 12,7 mm (infanteri) dan meriam AGL 40 mm (kavaleri).

Tidak itu saja, panser PT Pindad ini juga dilengkapi peralatan khusus seperti sarana penglihatan malam dan Winch 6 ton. Untuk alat komunikasi terdapat intercom set plus VHF/FM (anti jamming dan hopping) serta GPS.(Sumber)